0
Dikirim pada 03 Desember 2014 di Umum

Foto Rumah Minimalis modern - Menteri Perumahan Rakyak (Menpera) Djan Faridz meminta para pengembang perumahan menggunakan lampu hemat energi bertenaga surya. Kewajiban ini terutama diperuntukan untuk pengembang perumahan tipe 36 meter persegi yang diprogramkan oleh Kemenpera. Rumah Minimalis Type 36

"Kemenpera nantinya akan mengeluarkan Peraturan Menteri terkait penghematan energi untuk rumah tipe 36. Pengembang perumahan nanti wajib menggunakan lampu hemat energi tenaga surya," kata Djan Faridz di Jakarta, Senin (9/4/2012).

Djan mengatakan, masyarakat dapat memanfaatkan lampu dengan menggunakan lampu bertenaga surya. Selain itu, energi tenaga surya ini bisa dimanfaatkan untuk penerangan jalan. Gambar Rumah Minimalis Type 36

"Sementara PLN nanti dijadikan pendukung jika ada masalah dengan solar cell," ujarnya.

Menpera mengatakan, keberadaan lampu hemat energi ini telah banyak tersedia di pasaran meskipun penggunaannya belum disosialisasikan secara nasional. Ia menilai, apabila penggunaan lampu hemat energi ini bisa dilaksanakan, maka akan dapat membantu pemerintah dalam upaya penghematan energi listrik.

Djan Faridz mengatakan, untuk tujuan tersebut pihaknya akan bekerjasama dengan Kementerian ESDM dan Kementerian Dalam Negeri. Program ini, lanjutnya, tak hanya berhenti pada rumah tipe 36 saja, namun juga akan diwajibkan bagi pengembang yang membangun rumah susun dan apartemen.

Menpera mengaku yakin, beralih menggunakan lampu hemat energi tidak akan mempengaruhi harga rumah. Menurutnya, harga lampu tidak akan mahal karena akan diproduksi di dalam negeri.

"Kami sedang melakukan studi tentang harga lampu hemat energi ini dan berusaha agar harganya semurah mungkin," jelasnya.

Pengembang di Papua mengaku paling berat menjalankan skema baru kredit pemilikan rumah dengan Fasilitas Likuditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Pasalnya, masalah perumahan di Papua sangat beragam, mulai harga material bangunan mahal sampai ketersediaan tanah.

"Kalau harga rumah tipe 36 meter persegi itu Rp 70 juta, kami jelas tidak bisa membangun. Di Jayapura, harga semen per sak itu Rp 80.000 - Rp 90.000. Itu baru harga semen, belum harga material bangunan lainnya," ungkap Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Papua dan Papua Barat, Poerbaraya, kepada wartawan saat peringatan HUT REI ke-40 di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (31/3/2012).

Menurut dia, kebutuhan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah di Papua perlahan dapat terpenuhi. Namun, pemerintah diminta tidak menyamaratakan kondisi perekonomian tiap daerah.

"Selain material bangunan di Papua itu terkendala masalah tanah. Jangan dikira tanah di Papua itu murah. Di pusat kota harganya mencapai Rp 1 juta per meter persegi," ujarnya.

"Kalau di pedalaman memang ada harga tanah lebih murah, sekitar Rp 100.000 - Rp 200.000, namun kendalanya listrik dari PLN belum masuk," imbuh Poerbaraya.

Masyarakat Papua juga tak mau bila pengembang menyiasati membangun rumah berbahan material kayu. Poerbaraya mengatakan, masyarakat di sana umumnya menginginkan rumah berdinding bata.

"Banyak dari mereka sudah tidak mau lagi tinggal di rumah honai. Jangankan honai, rumah dari kayu saja tidak mau. Bank juga tidak mau memberikan KPR kalau yang dibiayai itu rumah papan, karena papan itu berkesan kumuh," kata Poerba.

Pada kesempatan sama, M Haidir Munthe, ketua DPD REI Kalimantan Tengah mengungkapkan, permasalahan perumahan di wilayahnya tak kalah pelik. Ia menuturkan, sertifikat untuk perumahan terkendala Rencana Tata Ruang Kota (RTRW) sehingga tidak dapat diterbitkan sejak 2008. Sementara hutan sudah dibabat untuk dijadikan perkebunan, sertifikat untuk rumah tipe 20 - 30 tidak bisa terbit.

"Dari target rumah dengan FLPP sebanyak 1.500 unit se-Kalimantan Tengah baru terealisasi 4 unit," jelasnya.

Tak berhenti di situ. Haidir juga mengaku prihatin, karena sebagai pusat wilayah yang kaya sumber daya alam batu bara, Kalimantan Tengah justeru terkendala listrik yang tidak bisa dinikmati masyarakatnya.

"Di wilayah dengan lumbung energi ini ternyata miskin energi listrik untuk rakyat. Masih ada tiang dan trafo sejak tahun 2010 berdiri, tapi belum menyala listriknya," katanya.



Dikirim pada 03 Desember 2014 di Umum
comments powered by Disqus
Profile

Suka dengan hal baru, karena hidup itu terus maju More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 78.367 kali


connect with ABATASA